Review Bladerunner 2049 : Penutup Sempurna sang pemburu robot


Film Bladerunner pertama adalah film SCI-FI yang sangat inovatif dan dianggap salah satu film SCI-FI terbaik sepanjang zaman. Begitu berpengaruhnya film Bladerunner pertama banyak film SCI-FI yang berusaha menciptakan kembali atmosfer dan suasana masa depan yang  unik di film ini tapi tidak semunya berhasil. Ceritanya yang “klise” dapat terlihat sangat menarik karena mengambil pendekatan yang berbeda dengan film pada umumnya karena peran jahat-baik yang tidak ditekankan namun lebih ke arah mengajak kita untuk berfikir, dengan menentukanya sendiri.

 Kekurangan kecil pada film tersebut dapat disempurnakan dengan bumbu manis oleh pendekatan visualnya yang keren dan salah satu yang terbaik pada zamanya bahkan hingga saat ini. Saking uniknya film ini sampai mendapatkan remaster beberapa kali hingga yang terakhir dengan versi Final Cutnya pada tahun 2007 untuk menyempurnakan visi si sutradara dengan menambahkan polesan CGI.

 Hingga pada akhirnya pegumuman yang tidak diduga-duga itu datang juga yakni pengumuman Bladerunner 2049 sekuel langsung film pertamanya, film Bladerunner 2049 melanjutkan cerita setelah event deckard kabur bersama rachael, seorang replicant. Pada film pertamanya kita dihadapkan dengan ending yang cukup menggantung dan membuat kita bertanya-tanya apa yang terjadi pada deckard dan rachael kemanakah mereka pergi?, well maka inilah sang penutup sempurna untuk film pertama. Bisakah film ini meneruskan “cawan suci” dari film pertamanya sebagai film SCI-FI tebaik sepanjang sejarah?

Bladerunner 2049

Film Bladerunner 2049 mengambil setting 27 tahun setelah film pertamanya dan menceritakan seorang Bladerunner lainya dengan nama KD6-3,7 yang berkerja pada biro kepolisian Los Angeles atau disingkat L.A.P.D. KD6-3,7 atau “K” (Nama panggilan)  ini seperti namanya yang hanya berupa serial, adalah seorang replicant atau robot yang seperti kalian tahu ditugaskan untuk menggantikan manusia. “K” adalah seorang Bladerunner yang sangat patuh dan tidak pernah gagal menjalani tes keseimbangan mental untuk para repilcant dan merupakan replicant kesayangan sang Letnan di kepolisian, namun semua kondisi itu berubah setelah “K” mengalami guncangan mental ketika ditugaskan ke sebuah peternakan untuk memburu replicant sisa-sisa dari zaman blackout atau penggelapan besar-besaran. “K” menemukan sebuah tulang belulang seorang replicant di bawah pohon dekat peternakan dan menemukan fakta bahwa dia (si replicant yang telah mati) melahirkan seorang anak. Yang mengganjal pikiran “K” adalah pahatan di pohon tempat ditemukanya sisa replicant itu menunjukan tanggal yang tidak asing bagi “K”,  apakah yang sebenarnya terjadi?

Film ini terlihat sekali berusaha untuk tetap bertahan pada gaya visual film pertamanya namun dengan sentuhan CGI yang modern. Hal ini dapat menjadi pedang bermata dua bila tidak dieksekusi dengan baik karena dapat danggap tidak membawa perubahan yang baru dan hanya bermain “aman”. Sesungguhnya di film ini tidak ada yang revolusioner dari sisi visual dan malah terkesan bland alias polos, jika diibaraktan dengan kanvas mungkin hanya 80% kanvas yang terisi apalagi dengan teknologi zaman sekarang untuk menggambarkan setting dunia cyberpunk yang maju tidaklah sulit.

Setting Film Bladerunner ala cyberpunk

 Masih banyak ruang kosong yang dapat dieksplorasi untuk mempresentasikan dunia masa depan yang benar-benar maju dan terlihat unik, sisi presentasi visualnya tidaklah kurang namun juga tidak terlihat begitu memesona. Namun semua itu dapat disempurnakan dengan peilihan kostum yang tepat dan sesuai dengan apa yang digambarkan baik dari film pertama ataupun dunianya secara keseluruhan saya rasa kekurangan 20% dari segi visual sudah dapat diisi dari pemilihan kostum dan properti yang digunakan. Kostum dan propertinya terlihat dibuat dengan kualtas tinggi yang pada akhrinya membuat kita berfikir dan merasa bahwa dunianya benar-benar ada.

Film ini membawakan ceritanya dengan tempo yang pelan dan mengalun karena pada kali ini lebih berfokus pada aksi “K” untuk menyelidiki kasus dengan porsi aksi yang cukup, bahkan menggambarkan kehidupan pribadi “K” agar terasa lebih personal dari pada film sebelumnya walaupun begitu sisi aksi yang ada di film ini terasa pas dan tidak dilebih-lebihkan dan sesuai dengan tema utamanya, didukung dengan teknik permainan kamera yang terfokus pada wajah dan ekspresi karakter.

 Hal ini berhasil membuat kita selalu penasaran akan aksi apa yang akan dilakukan “K” selanjutnya dan membuat kita menanti nanti adegan apa yang akan terjadi, perasaan exitment itu akan ditambah dengan plot twist yang dijamin bakal membuat kita terkejut dan kaget (Mind Blown). Seharusnya film ini dapat menyentuh para penontonya dengan aksi “K” namun terdapat sedikit kekurangan yang menganggu saya sejak awal film ini dimainkan,  dimana sang karakter utama walaupun replicant seharusnya memiliki ekspersi wajah yang alami seperti manusia pada umumnya apalagi dia adalah seri replicant terbaru bahkan pada film awal walaupun termasuk replicant versi lama sudah tidak dapat dibedakan dari manusia biasa. Wajah “K” terlalu robotik dan malah terlihat meniru ekspresi arnold dari seri Terminator.

Ekspresi Rian Gosling

 Sepertinya ini adalah kesalahan aktor untuk mempresentasikan “Robot” yang dimaksud. Karena cerita yang disampaikan dan tempo film yang pelan serta pengambillan gambar yang menunjukan ekspresi wajah seperti dikatakan sebelumnya film ini jadi terasa antiklimaks ditambah film ini seharusnya bisa menjadi lebih pendek dan ada adegan yang seharusnya dipotong karena teralu panjang dan tidak terlalu penting baik untuk cerita maupun untuk setting yang ada.

 Kecuali karakter utamanya karakter lainya memerankan karakternya dengan bagus dan benar-benar mendalami karakter yang dimainkan, bahkan pemeran-pemeran kameo atau sampingan melakukan tugasnya dengan baik malah saya memberikan dua jempol untuk pemeran yang lain. Terdapatnya karakter lawas dari film pertama yang muncul di film ini juga memberikan angin segar dan sedikit kejutan bagi ingatan kita serta menambahkan kedalaman cerita yang ada. 

            Pada akhirnya film ini berhasil menjadi penutup yang manis saga di dunia Cyberpunk futuristik ini. Beberapa kekurangan yang ada berhasil ditutup oleh aspek lainya dan melengkapi satu sama lain walaupun ada beberapa kekurangan yang menganggu, tetapi overall tidak akan mengurangi pengalaman yang ada secara umum. Bagi yang belum menonton seri pertamanya saya sangat-sangat menyarankan untuk menontonya lebih dahulu karena akan sangat membantu memahami cerita yang ada, apalagi film pertamanya merupakan film yang tidak kalah bagus walaupun berumur jauh lebih tua dan saran saya tonton versi FinalCut-nya. Menurut saya sang sutradara berhasil menutup cerita dengan menawan dan melengkapi ceritanya tanpa plothole dan terasa memuaskan. Bagi pecinta SCI-FI Tunggu apalagi segera tonton Film ini. Terimakasih sudah membaca review saya dan Selamat Menonton!
Newest
Previous
Next Post »